Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi bersama WALHI Jambi, Yayasan Setara, dan Misereor melakukan kunjungan lapangan dan belajar bersama tentang agroekologi serta kearifan lokal masyarakat adat Dusun Trans III SAD Sepintun, Kabupaten Sarolangun.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antar lembaga yang menjadi mitra Misereor dalam memperkuat pendampingan masyarakat adat, sekaligus mengembangkan praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Agroekologi). Selain itu, kunjungan ini juga menjadi wadah untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan bertukar informasi antara lembaga pendamping dan masyarakat.
Salah satu kegiatan utama adalah mengunjungi pohon madu sialang yang berada di tengah hutan. Tim didampingi oleh dua piawang, Pak Mad Cendung dan Pak Jay, yang selama ini dikenal sebagai piawang madu sialang. Masyarakat adat memiliki aturan ketat untuk menjaga kelestarian pohon ini, di antaranya dengan melindungi vegetasi di sekitarnya dalam radius minimal 100 meter. Area perlindungan ini disebut “selintang tali anyut”, yang menjadi bagian penting dari kearifan lokal dalam menjaga ekosistem hutan.

Selain itu, tim juga mengunjungi kebun-kebun masyarakat yang telah menerapkan praktik agroekologi. Di kebunnya, Pak Sugianto mempraktikkan sistem agroforestry dengan menanam kopi di antara pohon karet. Semua tanamannya dipelihara tanpa pupuk kimia, melainkan dengan pupuk organik yang ramah lingkungan. Praktik serupa juga dijalankan oleh Pak Din, yang mengelola kebunnya sepenuhnya dengan prinsip agroekologi untuk menjaga kesuburan tanah dan kesehatan ekosistem.

Tidak hanya itu, kunjungan juga dilakukan ke kebun sekolah SD Negeri 213/VII Sepintun. Anak-anak menanam berbagai sayuran seperti kangkung, cabai, tomat, terong, sawi, dan lain sebagainya. Dari kebun ini, tim bersama anak-anak memanen kangkung yang kemudian dimasak dan dinikmati bersama. Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman langsung tentang pentingnya bertani sehat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

Melalui rangkaian kunjungan ini, terlihat jelas bagaimana masyarakat adat SAD Sepintun menggantungkan hidupnya dari hutan sekaligus menjaga keberlanjutannya. Dengan kearifan lokal seperti perlindungan pohon sialang dan penerapan agroekologi di kebun, mereka membuktikan bahwa menjaga alam dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kolaborasi antar lembaga mitra Misereor ini bukan hanya memperkuat gerakan ekologis dan kemandirian masyarakat, tetapi juga membuka ruang untuk saling belajar, memperkaya pengetahuan, dan memperkuat solidaritas dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.


Discussion about this post