Di tengah hamparan kebun sawit di Dusun III Trans SAD Sepintun, seorang perempuan bernama Eka Sari membangun ketahanan pangan dari halaman sendiri. Dari kebun sederhana yang awalnya dibuat untuk bertahan hidup, kini tumbuh sumber pangan, penghasilan, dan inspirasi bagi masyarakat sekitar.
Menanam Harapan dari Tanah yang Pernah Sepi
Perjalanan Eka Sari dimulai sejak awal tahun 2000-an ketika keluarganya membeli tanah di Dusun III Trans SAD Sepintun. Namun kehidupan berubah pada tahun 2012 ketika keluarganya mengalami kebangkrutan dan kehilangan pekerjaan tetap. Keadaan sulit itu menjadi titik balik yang mempertemukan Eka dengan dunia pertanian. Pada tahun 2016, suaminya mulai membuka kebun di dusun tersebut. Dua tahun kemudian, Eka ikut mengelola lahan bersama keluarga. Awalnya mereka menanam sawit, lalu mengembangkan semangka dan padi di sela perkebunan. Setiap tahun, Eka rutin menanam semangka hingga akhirnya menyadari pentingnya kemandirian pangan.

Kesadaran Akan Pentingnya Pangan
Tahun 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Eka Sari. Sulitnya akses membeli sayuran membuatnya memutuskan menanam sendiri kebutuhan pangan keluarga. Ia mulai membudidayakan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menambah penghasilan. Kini, rumah Eka dikenal masyarakat sebagai tempat mencari sayuran segar. Warga yang membutuhkan sayur sering datang langsung ke rumahnya. Baginya, menanam sendiri berarti menjaga kualitas pangan keluarga.
Kebun yang Hidup dan Berkelanjutan

Kebun Eka Sari tumbuh sebagai ekosistem pangan yang beragam. Ia menanam jagung seluas dua hektare, gambas, kangkung, buncis, kacang panjang, cabai, bawang merah, terong, hingga berbagai tanaman buah seperti durian, mangga, matoa, pepaya, dan pisang. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian, Eka belajar secara mandiri melalui pengalaman. Ia juga memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun, buah busuk, sisa sayuran, dan kotoran kambing untuk difermentasi menjadi pupuk organik.
“Menikmatilah dalam bertani. Kalau kita menikmati perjalanan bertani, kita akan merasakan bahagia.”

Discussion about this post