Di Desa Bondoyong, nuansa belajar terasa berbeda pada Selasa, 24 Maret 2026 yang lalu. Sebanyak 20 perwakilan dari lima komunitas dampingan Cappa berkumpul dalam suasana yang akrab. Mereka tidak sekadar datang untuk berdiskusi, melainkan untuk menggali kembali harta karun yang mulai terlupakan: Kearifan lokal dalam menyediakan pangan keluarga.
Melalui forum Seri Lingkar Belajar Kampung, fokus kali ini tertuju pada satu tanaman sederhana namun sarat makna, yaitu Batata atau Ubi Jalar.
Kegiatan ini menghadirkan Ibu Helena, seorang petani lokal keturunan Suku Tajio. Di tangan beliau, menanam bukan sekadar urusan memindahkan bibit ke tanah, melainkan sebuah dialog dengan alam. Suku Tajio memiliki metode unik dalam budidaya Batata yang telah diwariskan turun-temurun, sebuah teknik yang memadukan pengamatan astronomi dan fenomena alam pesisir.
Dalam praktik yang diperagakan langsung oleh Ibu Helena, ada lima hal yang menjadi kunci keberhasilan panen masyarakat Tajio:
- Gundukan Tanah: Media tanam wajib dibuat dalam bentuk gundukan untuk memastikan sirkulasi udara dan ruang tumbuh umbi yang optimal.
- Potong Ujung 30 cm: hal ini dilakukan agar tanaman tidak menghabiskan energi untuk merambat terlalu jauh, sehingga di bagian pangkal pohon umbi sudah mulai terbentuk cepat.
- Menghitung Malam Bulan: Waktu menanam tidak dipilih sembarangan. Suku Tajio memperhatikan siklus bulan, idealnya dilakukan saat bulan di langit memasuki usia 15 hingga 20 malam ketika air laut surut.
- Isyarat Air Laut: Salah satu filosofi yang paling menarik adalah menanam saat air laut sedang surut hingga batu-batu karang terlihat. Masyarakat percaya, menanam di kondisi ini akan membuat isi Batata tumbuh besar dan kuat layaknya batu karang yang bermunculan.
- Teknik Melingkar: Proses penanaman dilakukan dengan mengambil empat ujung Batata, dibagi dua, lalu disatukan saling bertolak belakang hingga membentuk lingkaran sebelum dimasukkan ke dalam tanah.
Ibu Helena juga memperkenalkan varietas asli yang dibudidayakan Suku Tajio sejak dulu. Batata ini memiliki ciri khas kulit dan isi yang berwarna kuning. Meski membutuhkan waktu tunggu yang cukup lama, sekitar 5 hingga 6 bulan hingga masa panen, hasilnya sangat sepadan. Teksturnya dikenal sangat pulen dan memiliki rasa manis yang alami, terutama saat diolah dengan cara direbus.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Banyaknya diskusi dan tanya jawab menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kerinduan untuk kembali ke pola pangan mandiri. Sebagai tindak lanjut, komunitas telah sepakat untuk membuat plot percontohan (demplot) di Desa Bondoyong pada pertemuan bulan depan.
Harapannya sederhana namun berdampak besar: setiap peserta dapat mempraktikkan ilmu ini di pekarangan rumah masing-masing. Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam ubi, melainkan sebuah langkah nyata untuk mengembalikan kearifan lokal dalam menyediakan sumber pangan alternatif selain nasi.
Dengan menghidupkan kembali tradisi Suku Tajio, kita tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga identitas dan ketahanan pangan keluarga dari halaman rumah sendiri.

Discussion about this post