Perjalanan ini dimulai pada Juli 2025. Di bawah bimbingan guru dan fasilitator, jari-jari kecil siswa SD Inpres 1 Sidoan mulai bersentuhan dengan tanah, menancapkan batang-batang ubi kayu sebagai simbol awal kemandirian pangan. Kebun sekolah bukan sekadar lahan kosong, melainkan laboratorium alam tempat anak-anak belajar bahwa setiap hasil yang manis selalu diawali dengan proses menanam yang sabar. Kini, setelah berbulan-bulan dirawat, tanaman tersebut telah memasuki masa panen dengan pertumbuhan yang subur.
Kegiatan monitoring kebun sekolah kali ini terasa istimewa karena agenda utama adalah panen perdana. Namun, sebelum tangan-tangan mungil itu mulai mencabut umbi, sebuah diskusi hangat digelar. Guru pendamping memberikan arahan mengenai mekanisme panen dan teknik mencabut yang benar agar hasil panen tetap terjaga kualitasnya. Tak hanya itu, anak-anak diajak melakukan observasi menyeluruh untuk mendata tanaman apa saja yang masih bertahan di lahan mereka.

Tawa ceria pecah saat satu per satu ubi kayu berhasil terangkat dari tanah. Ada rasa bangga yang terpancar dari wajah mereka, melihat sesuatu yang mereka tanam sendiri kini siap dinikmati. Dari hasil panen sekitar 3 kg, ubi-ubi tersebut dibagikan secara adil kepada tujuh orang anak, di mana masing-masing mendapatkan sekitar 400 hingga 500 gram. Meski belum semua anak mendapatkan bagian hari ini, mereka belajar tentang arti antrean dan kerja keras, karena giliran panen berikutnya telah menanti bagi mereka yang terus konsisten merawat.
Di balik keceriaan itu, alam memberikan tantangan yang nyata. Cuaca ekstrem dan panas yang menyengat sempat membuat beberapa tanaman mengering, sebuah fenomena yang juga dirasakan warga desa Sidoan hingga memicu kebakaran lahan di beberapa titik. Namun, kondisi tanah SD Inpres 1 Sidoan yang subur terbukti mampu bertahan. Di sana, masih tersisa 4 rumpun ubi kayu, 10 pohon cabai, dan 2 pohon alpukat yang menjadi bukti ketangguhan ekosistem kecil yang mereka bangun.
Saat diminta tanggapannya, anak-anak mengaku sangat senang. Pengalaman merawat kebun memberikan pemahaman baru bahwa merawat tanaman adalah bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Semangat ini pun memicu rencana besar: pada April mendatang, mereka berkomitmen untuk menanam kembali menggunakan bibit ubi kayu pilihan dan menambah jenis tanaman lainnya.
Kegiatan di SD Inpres 1 Sidoan ini membuktikan bahwa kebun sekolah adalah metode pembelajaran yang sangat partisipatif. Melalui langkah sederhana seperti menanam ubi, kita tidak hanya memenuhi hak anak atas pangan lokal yang sehat, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bumi. Dengan dukungan guru dan perawatan yang rutin, kebun sekolah ini memiliki potensi besar untuk menjadi sumber kehidupan dan pengetahuan yang berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Discussion about this post