Desa Sipayo, Kecamatan Sidoan, 19 Juni 2025 – Dalam rangka penguatan peran perempuan dalam ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, yayasan CAPPA Keadilan Ekologi berkesempatan melakukan wawancara dalam bentuk podcast dengan salah satu anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Lampeana Gaya, yaitu Ibu Nikma. Tak hanya sebagai anggota aktif, beliau juga dikenal sebagai pionir dalam pengembangan produk anyaman yang kini menjadi salah satu unggulan kelompok tersebut.

Dalam perbincangan hangat tersebut, Ibu Nikma berbagi cerita tentang asal mula keterampilannya dalam menganyam. Kemampuan ini ia warisi dari ibunya sendiri. Sejak kecil, Ibu Nikma sering menyaksikan sang ibu menganyam berbagai jenis kerajinan tangan dari beragam bahan lokal. Salah satu yang paling membekas adalah saat melihat ibunya menganyam tikar dari daun pandan laut. Pengalaman masa kecil itulah yang kini menjadi pijakan semangatnya dalam berkarya dan mengembangkan produk-produk anyaman bersama KUPS Lampeana Gaya.
Menariknya, nama Lampea Nagaya sendiri memiliki makna filosofis. “Lampea” merupakan akronim dari Lambori, Pea-pea, dan Anasa—tiga jenis bahan dasar anyaman khas daerah tersebut, sementara “Nagaya” berarti Cantik dalam bahasa setempat. Ketiga bahan tersebut memiliki karakteristik unik:
- Lambori – Harus direbus terlebih dahulu, kemudian dikeringkan sebelum bisa diolah menjadi anyaman.
- Pea-pea – Tidak perlu direbus, cukup dikeringkan langsung dan siap dianyam.
- Anasa – Tidak direbus, namun setelah dikeringkan harus segera diolah karena mudah lapuk.
Di antara ketiganya, Lambori dan Pea-pea dinilai memiliki kualitas yang lebih baik dan daya tahan lebih lama dibandingkan Anasa, sehingga lebih sering digunakan sebagai bahan utama produksi.
Kini, KUPS Lampeana Gaya telah berhasil memproduksi berbagai produk anyaman seperti tikar, sajadah, pembungkus tumbler, dan sedang mengembangkan tas dan dompet. Mereka juga mulai merancang motif atau corak khas untuk menambah daya tarik produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Ibu Nikma mengungkapkan rasa bangganya bisa menjadi bagian dari KUPS ini. Anyaman yang dulu hanya dibuat untuk keperluan pribadi kini telah berkembang menjadi usaha produktif yang dikenal masyarakat dan mampu memberikan penghasilan. Ia berharap, ke depannya, produk-produk KUPS Lampeana Gaya dapat dikenal luas, tidak hanya di Parigi Moutong, tetapi juga hingga ke daerah lain.
Lebih dari itu, Ibu Nikma juga berharap agar semakin banyak perempuan yang terlibat dalam organisasi seperti ini—organisasi yang tidak hanya memberdayakan tetapi juga membuka ruang tumbuh bersama bagi perempuan-perempuan desa melalui keterampilan dan kerja kolektif.

Discussion about this post