Apa yang terlintas ketika mendengar kata ubi?
Bagi sebagian orang, mungkin ubi hanya dianggap sebagai makanan sederhana. Namun, di tangan anak-anak, ubi bisa berubah menjadi banyak hal: menjadi makanan yang lezat, ide yang kreatif, sekaligus menjadi pintu masuk untuk belajar tentang kesehatan dan lingkungan.
Hal itulah yang terlihat dalam kegiatan Kreasi Pangan Lokal Anak 2026 yang dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026 di MIS Al-Amin Bondoyong.

Sejak awal kegiatan, anak-anak diajak menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui permainan dan ice breaking. Mereka kemudian diperkenalkan dengan tantangan sederhana: mengolah ubi menjadi makanan yang kreatif bersama kelompok masing-masing.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan memasak. Anak-anak diberikan kesempatan untuk menjadi pelaku utama. Mereka berdiskusi menentukan makanan yang akan dibuat, membagi tugas, menyiapkan bahan, mengolah makanan, membentuk dan menata hasil kreasi hingga mempersiapkannya untuk dipresentasikan.
Dari satu bahan yang sama, lahirlah beragam kreasi. Ada ubi goreng sambal terasi, onde-onde goreng, roket ubi, kue janda, ubi bungkus, kolak ubi, hingga ubi goreng. Di balik proses tersebut, sebenarnya ada banyak pembelajaran yang sedang berlangsung. Anak-anak belajar bahwa bekerja dalam kelompok berarti harus saling mendengarkan, berbagi tugas, bertanggung jawab dan menghargai kontribusi teman. Mereka juga belajar mengambil keputusan dan mengembangkan ide sendiri.
Guru dan pendamping tidak mengambil alih proses. Mereka hadir untuk mendampingi dan memastikan kegiatan berlangsung dengan aman, sementara anak tetap memiliki ruang untuk mencoba dan berkreasi.
Setelah makanan selesai dibuat, pembelajaran berlanjut melalui sesi presentasi. Setiap kelompok menceritakan makanan yang mereka buat, bahan yang digunakan, asal bahan, alasan memilih makanan tersebut, manfaatnya bagi kesehatan, serta hubungannya dengan lingkungan. Dari sini, anak-anak belajar bahwa makanan yang kita konsumsi memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar rasa.
Pangan Lokal, Kesehatan, dan Lingkungan
Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam. Ada ubi kayu, ubi jalar, jagung, pisang, kelapa, sayuran dan berbagai sumber pangan lainnya yang tumbuh di sekitar masyarakat. Pangan lokal tidak hanya menjadi sumber makanan. Ia juga berkaitan dengan nilai gizi, budaya, ekonomi masyarakat, dan lingkungan.
Namun, anak-anak saat ini juga semakin dekat dengan berbagai makanan dan jajanan kemasan. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam membangun kebiasaan mengonsumsi pangan yang sehat sekaligus mengenalkan kembali kekayaan pangan yang ada di sekitar mereka. Karena itu, mengenalkan pangan lokal kepada anak sejak dini menjadi penting. Bukan dengan cara menggurui, tetapi dengan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Melalui kegiatan seperti Kreasi Pangan Lokal, anak dapat belajar bahwa makanan sehat tidak selalu harus sesuatu yang jauh atau mahal. Banyak sumber pangan yang baik justru dapat ditemukan di lingkungan sekitar.
Dari Pangan, Kita Belajar Tentang Hak Anak
Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang secara optimal, mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi, serta hidup dalam lingkungan yang baik dan sehat. Pemenuhan hak tersebut tidak dapat dipisahkan dari bagaimana kita menjaga sumber pangan dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Ketika lingkungan terjaga, sumber pangan dapat terus tersedia. Ketika pangan lokal dihargai dan dimanfaatkan, masyarakat juga memiliki peluang untuk menjaga pengetahuan, budaya, dan sumber daya yang ada di sekitarnya. Inilah yang ingin dibangun melalui Program SASA (Sehat Alam Sehat Anak) Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi: menghadirkan ruang belajar yang menghubungkan anak dengan pangan, kesehatan, dan lingkungan.
Sebab, berbicara tentang anak yang sehat bukan hanya tentang apa yang mereka makan hari ini. Tetapi juga tentang bagaimana kita memastikan pangan yang sehat tetap tersedia dan lingkungan tempat mereka tumbuh tetap terjaga di masa depan. Pada akhirnya, dari sebuah ubi yang sederhana, anak-anak belajar sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa apa yang kita makan berhubungan dengan kesehatan kita, lingkungan tempat kita hidup, dan masa depan yang sedang kita bangun bersama.



Discussion about this post