“…. dimakan buruungg
lamo niaannnn idak,
idak tipandaaanggg rusak,
rusak atiiii… ala oi pengarang,
pengarang jantunnggg …… gelundoiii…. ah.”
Dengan irama yang khas, lelaki berumur 51 tahun berkulit sawo matang itu melantunkan syair yang biasa dipakai dalam ritual besialang, yaitu kegiatan memanjat pohon sialang untuk mengambil madu. Oleh masyarakat adat Batin Telisak, lantunan syair itu disebut nombai.

Tidak jauh dari pohon sialang milik Marhoni, kami mendengarkan dan merekam kisah perjalanan hidup Mat Cendung menjadi seorang piawang, orang yang memanjat pohon-pohon tinggi itu untuk mengambil madu. Suasana yang hangat menghidupkan percakapan kami sore itu. Angin bertiup pelan, pepohonan di sekitar kami tenang. Percakapan itu tentang sesuatu yang sangat berharga dan begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Kami berbincang tentang besialang, tentang pohon yang disucikan, dan tentang tradisi yang dijunjung tinggi.
Bagi masyarakat adat Batin Telisak, pohon sialang adalah sesuatu yang sakral dan suci. Pohon tempat puluhan hingga ratusan repo (koloni lebah hutan Apis dorsata) bersarang itu diyakini punya penunggu, makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia. Karena itu, pohon sialang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga bernilai budaya dan seni. Bahkan, pohon sialang menjadi penanda ekologis sekaligus penanda batas wilayah adat. Keberadaannya membuktikan betapa dekatnya masyarakat adat dengan tanah yang mereka huni, tanah yang selama ini menghidupi mereka.
“Bagi kami, pohon sialang itu sangat penting. Tidak hanyo di zaman kami bae, tapi mulai dari zaman nenek puyang kami dulu,” tutur Mat Cendung.
Mata Mat Cendung terlihat lelah. Sejak pagi ia bekerja memperbaiki rumahnya. Meski begitu, sore ini ia tetap meluangkan waktu untuk berbagi cerita dan bertukar pengetahuan dengan kami.
Sejak malam pertama kami mengetuk pintu rumahnya, Mat Cendung memang senang bercerita. Dari caranya bercerita, terlihat betapa kaya pengetahuan lokal yang ia miliki. Suatu ketika kami bertanya kenapa ia begitu suka bercerita. Katanya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meneruskan pengetahuan yang diwariskan nenek moyangnya. Baginya, pengetahuan itu penting disampaikan agar orang lain bisa belajar dan tahu kekayaan yang tersimpan dalam ingatan orang-orang Batin Telisak.

Tidak heran pengetahuannya begitu luas. Ia adalah anak orang tuo, orang yang berguru langsung kepada generasi sebelumnya, generasi yang masih akrab dengan nilai dan pengetahuan lokal. Ia paham betul soal pohon-pohon hutan, batas-batas alam yang ditandai bukit-bukit, hingga potensi tambang yang terkandung di dalamnya.
Suara burung terdengar syahdu menemani percakapan kami. Tidak jauh dari tempat kami duduk, seekor lebah sedang mengisap nektar bunga liar. Pemandangan seperti ini jarang saya temui di kota, di tengah polusi dan gedung-gedung tinggi.
“Gimano kearifan lokal yang terkandung dengan pohon sialang ini, Wak?” tanya Dira, rekan yang ikut bersama saya sore itu.
“Wah, banyak,” jawab Mat Cendung spontan sambil memperbaiki posisi duduknya. Ia bersiap bercerita.
Sejak dulu, masyarakat adat Batin Telisak memang punya pengetahuan lokal yang melampaui zamannya. Salah satunya terlihat pada lantak, pasak kayu yang ditancapkan ke batang sialang sebagai pijakan untuk memanjat. Lantak tidak dibuat dari sembarang kayu. Mereka setidaknya memakai dua jenis kayu, yaitu kayu pisang dan kayu manis. Pilihan ini ada alasannya. Kayu itu cukup kuat untuk menahan tubuh piawang saat memanjat, tetapi lama-kelamaan akan lapuk dan pecah sendiri, sehingga tidak merusak batang sialang. Lain halnya dengan paku besi. Paku tertinggal lama di dalam batang dan berkarat. Lukanya membuat batang sialang lapuk, dan dalam jangka panjang pohon bisa tumbang.
“Kalu ngambik kayu sialang itu, sebenarnyo tidak boleh pakai paku. Kalo pakai paku, rusak batang kayu dimakan bubu, jadi kulitnyo itu buruk. Makonyo banyak sialang itu yang tumbang,” jelas Mat Cendung sambil menunjuk pohon sialang di dekat kami.
Kearifan itu tidak berhenti pada lantak. Prosesi besialang sendiri menyimpan banyak nilai. Nombai, dengan syair dan nada yang indah, adalah cara para piawang membujuk lebah. Bagi mereka, lebah seperti anak kecil yang mesti diasuh dengan nyanyian. Madu pun diambil pada malam hari, salah satunya agar lebah tidak merajuk. Semua ini menunjukkan betapa mereka menghormati lebah. Lebah dan pohon sialang tidak dipandang semata sebagai sumber produksi dan uang, melainkan sebagai makhluk hidup yang layak dihormati, sama seperti manusia.

Tak terasa, matahari sudah jauh turun ke barat. Percakapan yang panjang itu terasa hanya beberapa menit. Masih ada satu hal yang ingin kami tanyakan, dan Mat Cendung tidak keberatan melanjutkan hingga ujung sore. Kami ingin tahu bagaimana masyarakat adat Batin Telisak menjaga kawasan hutan lewat tradisi besialang, selain yang sudah ia ceritakan tadi.
Mat Cendung lalu bercerita tentang kawasan selintang tali anyut di sekitar pohon sialang. Tali anyut adalah tali, dulu dari rotan dan kini ada juga yang memakai tali sintetis, yang dipakai untuk menurunkan madu dari atas pohon. Sepanjang tali anyut itulah jari-jari lingkaran di sekitar pohon sialang yang mesti dijaga. Di dalam lingkaran itu, pohon tidak boleh sembarang ditebang dan lahannya tidak boleh dibuka untuk kebun.
Tujuannya agar pohon sialang bisa bertahan dan hidup lebih lama. Pohon-pohon besar di sekitarnya tidak boleh ditebang karena berfungsi sebagai pemecah angin, sehingga sialang tetap kokoh saat diterpa angin dan badai. Selain itu, tumbuhan di selintang tali anyut juga menjadi sumber pakan lebah, seperti nektar, polen, dan resin.
Pertama kali mendengar penjelasan ini, saya takjub. Yang diceritakan Mat Cendung sama dengan yang diajarkan dalam pelajaran biologi dan fisika. Pohon besar bisa meredam angin, dan lebah butuh beragam tumbuhan di sekitarnya untuk makan.
Orang-orang dulu di Batin Telisak tidak pernah duduk di ruang kelas untuk mempelajari itu. Mereka belajar langsung dari hutan. Mereka mengamati, mencoba, lalu mengingat, dari satu musim ke musim berikutnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka tahu kayu mana yang tepat dijadikan lantak, kapan madu sebaiknya diambil, dan seberapa luas hutan yang harus dibiarkan tumbuh di sekitar sialang. Pengetahuan itu tidak tertulis di buku. Ia diturunkan lewat cerita, lewat praktik besialang, dan lewat aturan adat, seperti yang sore itu dilakukan Mat Cendung kepada kami.
Percakapan dengan Mat Cendung membuat saya termenung. Ke mana saja saya selama ini? Kenapa saya belum sungguh-sungguh menggali pengetahuan lokal di kampung-kampung? Jangan-jangan masih banyak sekali pengetahuan seperti ini yang belum sampai ke khalayak?
Matahari makin rendah, suara-suara kian sunyi, langit mulai redup. Percakapan kami pun sampai di ujungnya. Wajah Mat Cendung terlihat sangat lelah, tetapi harapan yang ia sampaikan di akhir percakapan memberi tanda yang kuat bagi kami bahwa nyala api tidak boleh padam. Hal-hal baik mesti diperjuangkan dengan sepenuh hati.
“Terimo kasih. Kami berharap kito biso bergerak besamo ke depannyo,” ucap Mat Cendung sambil tersenyum. Kami pun melangkah pulang.

Discussion about this post