Siang terasa cukup kering ketika Mila, perempuan muda berumur 25 tahun, menyirami bibit-bibit kopi yang tumbuh hijau hasil semaian beberapa waktu lalu. Suasana kebun terkesan sepi. Tak ada bunyi riak air yang keras, tak ada pula bunyi gemuruh langit yang mengundang hujan. Yang ada hanya tanah yang hampir mati serta aliran sungai yang sekarat dimakan kemarau.
Berbaju kaos sederhana, celana panjang, sepatu boots, saong-saong, serta peralatan penyiraman sederhana, aktivitas Mila siang ini adalah membasahi bibit-bibit kopi yang akan ditanaminya nanti. Bersama ibunya, Nur Cahaya, mereka berbagi peran dengan baik. Ibunya bertugas mengangkut air dari sungai, Mila yang menyiramnya.
“Apa yang paling dibutuhkan sekarang, Buk?” tanyaku memantik pertemuan kami.
“Kalo saat ini ya hujan, bukan bantuan,” jelas Nur Cahaya menggambarkan kebutuhan pokok petani.
“Nanti kalo sudah musim hujan, bisa lah nanti kita lihat cabe memenuhi ladang kami,” ucap Mila meyakinkanku bahwa kebutuhan utama petani adalah hujan, bukan bantuan berupa alat-alat yang tidak tepat sasaran.
Beberapa waktu belakangan ini, Mila aktif mengelola kebun bersama ibunya. Katanya, kebun ini adalah aset yang mesti dimanfaatkan dengan baik. Berbeda dengan beberapa teman sebayanya di kampung yang lebih memilih untuk kerja di kota dan meninggalkan sektor potensial yang ada di desa.
Baginya, sektor pertanian-kehutanan cukup seksi dan menjanjikan jika bisa dikelola dengan baik. Inilah yang menjadi alasan utamanya untuk menetap di desa, lalu mengelola tanah bersama ibunya.

Tak lama, Nur Cahaya muncul dari lekuk bukit. Gembor biru penuh air dijunjung di atas kepalanya, bertumpu pada saong-saong. Satu tangannya memegangi cerat gembor supaya tak oleng. Jalannya menanjak, napasnya sedikit terdengar di tengah terik matahari musim kemarau ekstrim ini. Gembor itu ia serahkan ke Mila, lalu ia mengobrol dengan hangat bersama kami.
Aku memperhatikan mereka cukup lama. Mila lalu bercerita tentang ibunya.
“Mama aku panjang kaki. Semua dikerja,” katanya sambil tersenyum.
Panjang kaki, begitu Mila menyebut ibunya. Bukan karena tubuhnya tinggi, melainkan karena langkahnya yang tak pernah berhenti. Dalam seminggu selalu ada saja yang dikerjakan. Kadang, Nur Cahaya pergi ke Keritang, Riau, sekitar satu setengah jam perjalanan dari rumah. Ia berangkat pagi dan baru sampai rumah sekitar jam sepuluh malam untuk mengurus kebunnya yang di sana.
“Kami ini kebetulan aja di rumah, karena hari Minggu,” kata Nur Cahaya menimpali.
Panjang kaki, bagi Mila, adalah semacam filosofi untuk menggambarkan seseorang yang tidak bisa berdiam di tempat. Orang-orang yang panjang kaki selalu punya hal yang mesti dikerjakannya,
kadang mendaki bukit sebagai petani, kadang melangkah cepat seperti pedagang. Itulah cara mereka untuk terus menghidupi orang-orang yang disayanginya.
Sejak 24 tahun lalu, Nur Cahaya bekerja keras menghidupi keluarganya seorang diri. Dari kecil, Mila terbiasa melihat ibunya pulang malam, berjalan jauh sendirian, mengolah tanah ladang tempat tumbuh-tumbuhan memberinya makan.
“Aku udah terbiasa nengok dia. Oh, mamaku berani nih, perjalanan sendiri,” kenangnya. “Dia lah patokanku. Apa yang dikerjain mama, ikut ke aku. Jadi sebenarnya kerja yang kayak gini, ngikutin dia.”

Sebelum kembali ke kebun, Mila sebenarnya punya jalan lain. Ia sarjana teologi dan sempat mengajar sebagai guru agama di sekolah.
“Lebih enak mana, jadi guru atau jadi petani?” tanyaku penasaran.
“Enak di sini,” jawabnya cepat. “Kalo jadi guru, belum lagi mikirkan muridnya, belum lagi mikirkan orang tuanya, PR-nya lagi. Di sini satu aja yang dipikiran.”
Soal penghasilan, Mila juga terus terang. Sebagai guru agama, gajinya kecil dan dibayar per tiga bulan dari dana BOS sekolah. Itu pun kalau kepala sekolah mau mengeluarkannya. Untuk diangkat menjadi P3K, ia harus mengabdi empat sampai lima tahun dulu.
Meski begitu, Mila tak merasa sia-sia sudah kuliah teologi. “Jalannya bukan hanya kita di sekolah untuk ngajar. Di gereja bisa juga. Ilmunya tetap dipakai,” katanya.
Bagiku, ini yang menarik dari Mila. Ia melihat bahwa ada banyak cara untuk menurunkan pengetahuan, tidak mesti menjadi guru formal. Tapi untuk urusan dapur, pertanian dan kehutanan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di antara teman seangkatannya, Mila termasuk sedikit yang memilih bertahan di kampung.
“Dari banyaknya kami di sini, yang perempuannya memang cuma aku yang pekerja seperti itu,” katanya.
Menurut Mila, kebanyakan temannya lebih memilih kerja keluar. Ada yang memang tidak dibolehkan orang tuanya ke ladang, ada juga yang gengsi karena sudah sekolah tinggi. Mila sendiri tidak ambil pusing. Di awal, sebelum kebunnya menghasilkan, ia bahkan ikut bekerja di ladang orang untuk mendapat uang.
“Tapi kan cewek, Kak, kerja di ladang?” tanyaku iseng.
“Perempuan, laki-laki, asal pakai otak aja cara kerjanya,” jawabnya.
Nur Cahaya yang mendengar ikut tertawa. “Nggak ada ibu suruh, nggak ada dipaksa. Anak orang Batak ini, kalo udah pernah megang hasil ladang sekali aja, langsung dihitung dia hasilnya.”
Bagi Mila dan ibunya, menjadi petani, apalagi petani perempuan, bukanlah aib. Mereka bangga, dan menganggapnya sebagai peluang.

Kebun yang mereka garap ini berada di dalam kawasan hutan. Lahannya dikelola melalui skema perhutanan sosial, Hutan Kemasyarakatan (HKm), bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Mahau Lestari di Desa Sungai Penoban. Artinya, mereka punya izin untuk mengelola lahan, tapi lahan itu tidak bisa dijual dan tidak bisa disertifikatkan.
Kelompok ini sedang mengusahakan cara bertani yang dekat dengan hutan. Kebunnya tidak ditanami satu jenis tanaman saja. Di kebun Nur Cahaya, kopi tumbuh di bawah pohon-pohon besar dan durian. Di sela-selanya ada pisang, lalu di bawahnya cabai, kacang panjang, dan rimbang. Kebunnya bertingkat seperti hutan, dan hasilnya bisa dipetik bergantian.
Siang itu, Nur Cahaya memetik rimbang yang mulai berbuah. Buahnya bulat hijau, kecil-kecil. Orang di sini menyebutnya cepokak, sedangkan dalam bahasa Batak disebut terimbang (rimbang). Di tangannya yang lain ada sekantong cabai hasil petikan hari itu.
Ia juga bercerita tentang bodat atau monyet, yang suka datang ke kebun. Bibit alpukat yang ditanam dua, dicabut satu oleh bodat. “Bagi dua kita ya, katanya,” ucap Nur Cahaya sambil tertawa.

Kopi di kebun ini sebenarnya sudah lama berbuah. Tapi dulu buahnya dibiarkan saja sampai jatuh sendiri.
“Dulu nanam ya dibiarin aja. Nggak tahu kalo bisa dikeringkan, bertahan lama,” kata Nur Cahaya.
Baru setahun terakhir buah kopi itu dipetik, setelah ada orang kampung yang mengajari. Caranya sederhana. Buah kopi merah dijemur bersama kulitnya sampai benar-benar kering. Setelah itu ditumbuk di lesung dengan alu, lalu ditampi untuk memisahkan kulitnya. Biji kopinya kemudian digongseng atau disangrai memakai alat milik kelompok, lalu digiling dan dijual dalam bentuk bubuk.
Dari sini aku belajar bahwa pengetahuan di kampung tidak hanya turun dari orang tua ke anak. Pengetahuan juga mengalir dari anggota ke anggota kelompok lainnya, lalu diolah dan dipakai bersama.
Namun kemarau tahun ini membawa cobaan. Api sampai ke kebun mereka. Sebagian bibit kopi yang baru ditanam ikut terbakar. Di lereng bukit, batang-batang kayu menghitam, tanahnya masih menyisakan abu. Untungnya, beberapa tumbuhan masih bertahan.
Bibit-bibit kopi yang disiram Mila di bawah paranet itulah yang nanti akan menggantikan tanaman yang terbakar.
Kebun yang ditanami beragam tanaman memang tidak sepenuhnya kebal api. Tapi ketika satu tanaman habis, masih ada tanaman lain yang bertahan.
Aku lalu bertanya pada Nur Cahaya, apakah ia tidak keberatan menggarap lahan yang tidak bisa disertifikatkan. Bukankah banyak orang ingin tanahnya bersurat, supaya bisa dijaminkan ke bank?
Nur Cahaya menggeleng.
“Kita masih bisa kerja di sini, nggak ada yang ngusir. Nggak bisa digadaikan suratnya ke bank, aku nggak butuh,” katanya. “Nggak pusing lah, Kak, aku nanti bayar hutang. Lebih baik dipergunakan apa yang ada.”
Jawaban itu membuatku diam cukup lama. Bagi Nur Cahaya, mengelola lahan perhutanan sosial bukanlah aib. Yang jadi aib adalah menggadaikan tanah, lalu tidak sanggup membayar hutangnya ke bank. Lahan yang tak bisa digadai justru memberinya rasa aman.

Menjelang sore, kami berjalan menyusuri jalan setapak di antara rumpun pisang. Mila berjalan di depan dengan sepatu bootsnya. Nur Cahaya di belakang, saong-saong masih membungkus kepalanya, parang di tangan. Asap kemarau masih menggantung di antara pepohonan.
Aku memandangi mereka berdua dari belakang. Yang satu sudah puluhan tahun berjalan jauh untuk menghidupi keluarganya. Yang satu baru memulai, di kebun sendiri.
Nur Cahaya tidak mewariskan surat tanah kepada anaknya. Ia mewariskan langkah, juga cara mengolah tanah. Kini, panjang kaki itu ada dua pasang, yang saling melengkapi.
Dorel Efendi, Fasilitator of Ecopreneur Innovation, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi.

Discussion about this post