Bagaimana jika sebuah desa ternyata menyimpan begitu banyak kehidupan yang selama ini belum terdokumentasikan? Dari satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di Sulawesi hingga tumbuhan yang masih dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional, setiap sudut wilayah desa menyimpan cerita tentang kekayaan alam dan pengetahuan lokal.
Untuk mengetahui lebih jauh kekayaan tersebut, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi melaksanakan kegiatan Pemetaan Keanekaragaman Hayati, khususnya flora dan fauna, di desa dampingan CAPPA di Sulawesi Tengah, salah satunya di Desa Bainaa Barat.

Kegiatan ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan keberadaan berbagai jenis flora dan fauna yang terdapat di wilayah desa. Proses pemetaan menggunakan pendekatan partisipatif, dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam mengenali berbagai jenis tumbuhan maupun satwa yang hidup di sekitar mereka.
Menariknya, pemetaan juga dikolaborasikan dengan teknologi drone. Penggunaan teknologi ini membantu memberikan gambaran wilayah secara lebih luas sekaligus mendukung proses identifikasi dan pemetaan kondisi lingkungan di lokasi kegiatan.
Dari proses tersebut, ditemukan sedikitnya 20 jenis fauna yang menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati wilayah desa. Beberapa di antaranya merupakan satwa khas dan endemik Sulawesi, seperti Tarsius Wallace, Rangkong Julang Sulawesi, Babirusa Sulawesi, Anoa, Monyet Heck, Monyet Tonkean, Maleo, Kura-kura Sulawesi, Kuskus Beruang, Kuskus Kecil Sulawesi, Pelatuk Kelabu Sulawesi, serta Kakatua.
Selain itu, ditemukan pula Nuri Kepala Hitam (Ornate Lorikeet), Cabai Panggul Kelabu, Sulawesi Hornbill, Rusa, Burung Gosong Filipina, Musang Sulawesi, Ular Piton, dan Elang.

Keberadaan satwa-satwa tersebut bukan hanya menunjukkan tingginya kekayaan biodiversitas, tetapi juga menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Tidak hanya fauna, pemetaan juga mengungkap beragam jenis flora yang selama ini dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Bagi masyarakat setempat, tumbuhan tidak sekadar menjadi bagian dari hutan, tetapi juga memiliki nilai dan manfaat yang diwariskan melalui pengetahuan lokal.
Beberapa tumbuhan bahkan masih dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional. Di antaranya Siko Kolopu yang digunakan untuk membantu mengatasi gatal, Sulapung yang dipercaya dimanfaatkan dalam pengobatan kanker payudara, serta Pisang Monyet/Sesan Wates TBL yang dimanfaatkan untuk batuk dan TBC.
Terdapat pula Daun Jambu, Long Jamban, dan Blimbing yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi diare; kulit kayu Jawa untuk penutup luka; Kayu Monosopang untuk obat flu; Mautaulang untuk pengobatan mata; serta Aga yang dimanfaatkan untuk membantu memecahkan bisul.
Sementara itu, Kulalo dikenal untuk membantu mengatasi sakit gigi dan Kalamau dimanfaatkan untuk pengobatan kurap. Jenis flora lainnya seperti Dungomo, Donato, Lembonu, dan Tasogo turut menjadi bagian dari pengetahuan tumbuhan yang dikenal masyarakat di wilayah tersebut.
Temuan dari pemetaan ini menunjukkan bahwa kekayaan alam desa tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya jenis satwa dan tumbuhan yang ditemukan. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, praktik pengobatan tradisional, serta hubungan masyarakat dengan alam yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Karena itu, pemetaan keanekaragaman hayati menjadi lebih dari sekadar kegiatan mencatat nama spesies. Data yang terkumpul dapat menjadi dasar untuk mengenali, mendokumentasikan, menjaga, dan mengelola kekayaan alam secara lebih berkelanjutan.
Melalui pendekatan partisipatif dan pemanfaatan teknologi, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pendataan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mengenali dan menjaga kekayaan alam di wilayahnya.
Sebab, ketika satu spesies hilang, yang mungkin ikut hilang bukan hanya bagian dari ekosistem, tetapi juga pengetahuan dan cerita yang hidup bersama masyarakat.
Menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga hutan, pengetahuan lokal, dan kehidupan untuk generasi yang akan datang.

Discussion about this post