Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi
  • BERANDA
  • PUBLIKASI
    • BERITA
    • KABAR KAMPUNG
    • REFERENSI
    • BUKU
  • KEBIJAKAN
    • PERATURAN UNDANG-UNDANG
    • PERATURAN PEMERINTAH
    • PERATURAN MENTERI
    • PERATURAN DAERAH
    • PERATURAN GUBERNUR
    • PERATURAN BUPATI
  • GALERI
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH
    • VISI & MISI
    • NILAI-NILAI CAPPA
    • MOTTO
    • PENCAPAIAN
  • STRUKTUR ORGANISASI
  • TIM KAMI
No Result
View All Result
Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi
  • BERANDA
  • PUBLIKASI
    • BERITA
    • KABAR KAMPUNG
    • REFERENSI
    • BUKU
  • KEBIJAKAN
    • PERATURAN UNDANG-UNDANG
    • PERATURAN PEMERINTAH
    • PERATURAN MENTERI
    • PERATURAN DAERAH
    • PERATURAN GUBERNUR
    • PERATURAN BUPATI
  • GALERI
  • TENTANG KAMI
    • SEJARAH
    • VISI & MISI
    • NILAI-NILAI CAPPA
    • MOTTO
    • PENCAPAIAN
  • STRUKTUR ORGANISASI
  • TIM KAMI
Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi
No Result
View All Result
Home PUBLIKASI KABAR KAMPUNG

Jejak Kehidupan di Balik Hutan Desa: Memetakan Kekayaan Flora dan Fauna Sulawesi Tengah

Herdiansyah

06/10/2026
in KABAR KAMPUNG, PUBLIKASI
A A
0
ShareTweetSendScan

Bagaimana jika sebuah desa ternyata menyimpan begitu banyak kehidupan yang selama ini belum terdokumentasikan? Dari satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di Sulawesi hingga tumbuhan yang masih dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional, setiap sudut wilayah desa menyimpan cerita tentang kekayaan alam dan pengetahuan lokal.

Untuk mengetahui lebih jauh kekayaan tersebut, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi melaksanakan kegiatan Pemetaan Keanekaragaman Hayati, khususnya flora dan fauna, di desa dampingan CAPPA di Sulawesi Tengah, salah satunya di Desa Bainaa Barat.

Proses pengumpulan data flora dan fauna bersama warga desa Bainaa Barat metode penggalian data

Kegiatan ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan keberadaan berbagai jenis flora dan fauna yang terdapat di wilayah desa. Proses pemetaan menggunakan pendekatan partisipatif, dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam mengenali berbagai jenis tumbuhan maupun satwa yang hidup di sekitar mereka.

Menariknya, pemetaan juga dikolaborasikan dengan teknologi drone. Penggunaan teknologi ini membantu memberikan gambaran wilayah secara lebih luas sekaligus mendukung proses identifikasi dan pemetaan kondisi lingkungan di lokasi kegiatan.

Dari proses tersebut, ditemukan sedikitnya 20 jenis fauna yang menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati wilayah desa. Beberapa di antaranya merupakan satwa khas dan endemik Sulawesi, seperti Tarsius Wallace, Rangkong Julang Sulawesi, Babirusa Sulawesi, Anoa, Monyet Heck, Monyet Tonkean, Maleo, Kura-kura Sulawesi, Kuskus Beruang, Kuskus Kecil Sulawesi, Pelatuk Kelabu Sulawesi, serta Kakatua.

Selain itu, ditemukan pula Nuri Kepala Hitam (Ornate Lorikeet), Cabai Panggul Kelabu, Sulawesi Hornbill, Rusa, Burung Gosong Filipina, Musang Sulawesi, Ular Piton, dan Elang.

Landscap wilayah hutan Desa Bainaa Barat

Keberadaan satwa-satwa tersebut bukan hanya menunjukkan tingginya kekayaan biodiversitas, tetapi juga menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Tidak hanya fauna, pemetaan juga mengungkap beragam jenis flora yang selama ini dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Bagi masyarakat setempat, tumbuhan tidak sekadar menjadi bagian dari hutan, tetapi juga memiliki nilai dan manfaat yang diwariskan melalui pengetahuan lokal.

Beberapa tumbuhan bahkan masih dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional. Di antaranya Siko Kolopu yang digunakan untuk membantu mengatasi gatal, Sulapung yang dipercaya dimanfaatkan dalam pengobatan kanker payudara, serta Pisang Monyet/Sesan Wates TBL yang dimanfaatkan untuk batuk dan TBC.

Terdapat pula Daun Jambu, Long Jamban, dan Blimbing yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi diare; kulit kayu Jawa untuk penutup luka; Kayu Monosopang untuk obat flu; Mautaulang untuk pengobatan mata; serta Aga yang dimanfaatkan untuk membantu memecahkan bisul.

Sementara itu, Kulalo dikenal untuk membantu mengatasi sakit gigi dan Kalamau dimanfaatkan untuk pengobatan kurap. Jenis flora lainnya seperti Dungomo, Donato, Lembonu, dan Tasogo turut menjadi bagian dari pengetahuan tumbuhan yang dikenal masyarakat di wilayah tersebut.

Temuan dari pemetaan ini menunjukkan bahwa kekayaan alam desa tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya jenis satwa dan tumbuhan yang ditemukan. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, praktik pengobatan tradisional, serta hubungan masyarakat dengan alam yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Karena itu, pemetaan keanekaragaman hayati menjadi lebih dari sekadar kegiatan mencatat nama spesies. Data yang terkumpul dapat menjadi dasar untuk mengenali, mendokumentasikan, menjaga, dan mengelola kekayaan alam secara lebih berkelanjutan.

Melalui pendekatan partisipatif dan pemanfaatan teknologi, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pendataan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mengenali dan menjaga kekayaan alam di wilayahnya.

Sebab, ketika satu spesies hilang, yang mungkin ikut hilang bukan hanya bagian dari ekosistem, tetapi juga pengetahuan dan cerita yang hidup bersama masyarakat.

Menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga hutan, pengetahuan lokal, dan kehidupan untuk generasi yang akan datang.

Discussion about this post

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Jejak Kehidupan di Balik Hutan Desa: Memetakan Kekayaan Flora dan Fauna Sulawesi Tengah
  • Langkah Kecil dari Desa Membawa Dampak Nyata Hingga Panggung Nasional!
  • Menghidupkan Kembali Jejak Leluhur: Menguak Kearifan Lokal dan Kemandirian Pengelolaan SDA di Dusun III Trans SAD Sepintun
  • Ketika Ubi Menjadi Ruang Belajar Anak
  • Merawat Tanah, Menjaga Kehidupan: Refleksi Hari Tani Nasional Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi

Recent Comments

    Archives

    • October 2026
    • September 2026
    • August 2026
    • July 2026
    • June 2026
    • May 2026
    • April 2026
    • March 2026
    • February 2026
    • January 2026
    • November 2025
    • October 2025
    • September 2025
    • August 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • January 2025
    • November 2024
    • October 2024
    • September 2024
    • August 2024
    • June 2024
    • February 2024
    • November 2023
    • September 2023
    • August 2023
    • July 2023
    • June 2023
    • April 2023
    • February 2023
    • January 2023
    • June 2022
    • April 2022
    • March 2022
    • February 2022
    • December 2021
    • November 2021
    • October 2021
    • September 2021
    • July 2021
    • June 2021
    • May 2021
    • April 2021
    • March 2021
    • February 2021
    • January 2021
    • December 2020
    • November 2020
    • October 2020
    • September 2020
    • July 2020
    • June 2020
    • March 2020
    • February 2020
    • January 2020
    • December 2019
    • October 2019
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • May 2019
    • March 2019
    • November 2018
    • September 2018
    • August 2018
    • May 2018
    • March 2018
    • December 2017
    • September 2017
    • May 2017
    • March 2017
    • February 2017
    • March 2016
    • December 2015
    • December 2014
    • July 2014
    • March 2014
    • December 2013
    • December 2011
    • March 2009
    • March 1999
    • March 201

    Categories

    • BERITA
    • BUKU
    • FOTO
    • HEADLINE
    • INFOGRAFIS
    • KABAR KAMPUNG
    • PERATURAN MENTERI
    • PERATURAN PEMERINTAH
    • PERATURAN UNDANG-UNDANG
    • PUBLIKASI
    • REFERENSI
    • VIDEO

    Meta

    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi

    Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi

    ©2020 Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi - Komplek Puri Cemara Indah 1 B1/04 RT 32 RW 04, Kelurahan Selamat Kecamatan Danau Sipin Kota Jambi. Kode Pos 36125.

    No Result
    View All Result
    • BERANDA
    • PUBLIKASI
      • BERITA
      • KABAR KAMPUNG
      • REFERENSI
      • BUKU
    • KEBIJAKAN
      • PERATURAN UNDANG-UNDANG
      • PERATURAN PEMERINTAH
      • PERATURAN MENTERI
      • PERATURAN DAERAH
      • PERATURAN GUBERNUR
      • PERATURAN BUPATI
    • GALERI
    • TENTANG KAMI
      • SEJARAH
      • VISI & MISI
      • NILAI-NILAI CAPPA
      • MOTTO
      • PENCAPAIAN
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • TIM KAMI

    ©2020 Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi - Komplek Puri Cemara Indah 1 B1/04 RT 32 RW 04, Kelurahan Selamat Kecamatan Danau Sipin Kota Jambi. Kode Pos 36125.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Muhammad Zuhdi

    Pria kelahiran Bungo 06 November 1977 ini sudah aktif di dunia NGO sejak tahun 1996 sebagai aktivis Serikat Buruh Seluruh Indonesia Provinsi Jambi. Tahun 2000 mulai bergabung dengan Walhi Jambi sebagai Community Organizer. Pada tahun 2004-2006 menjadi Direktur Yayasan Keadilan Rakyat. Keaktifanya di dunia advokasi sosial dan lingkungan membawa pria yang akrab di sapa Cik Edi ini menjadi Sekretaris Forum Komunikasi Daerah yang merupakan forum multipihak dalam pengelolaan hutan pada Lembaga Ekolabel Indonesia, Tahun 2017 hingga 2019 tercatat sebagai koordinator Divisi IV penyelesaian Konflik Pokja PPS Provinsi Jambi, Tahun 2020 kembali terpilih menjadi salah satu sekretaris di Pokja PPS Provinsi Jambi. Ditetapkan sebagai Wakil Ketua di Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumberdaya Hutan Provinsi Jambi Periode 2020-2023. Saat ini juga tercatat sebagai anggota Sawit Watch, di Yayasan CAPPA dipercaya sebagai Kepala Sekretariat.


    Here can be your custom HTML or Shortcode

    This will close in 20 seconds

    Fatmawati

    Fatmawati, Perempuan yang lahir di salah satu desa yang berada di Kabupaten Tojo Una-una pada bulan Agustus 1994 merupakan seorang lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Datokarama Palu. Aktif di berbagai organisasi kampus membawanya bertemu dengan berbagai pengalaman dan koneksi baru sehingga dirinya bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial baik yang bergerak di isu lingkungan maupun pendidikan. Pernah terlibat dalam program Sekolah Pemuda Penggerak sebagai fasilitator penelitian partisipatif masyarakat di bidang lingkungan dan pendidikan di Kepulauan Una-Una dan fasilitator dalam pembentukan Forum Anak di Kabupaten Banggai Laut. Selain itu, Fatma juga terlibat aktif mengedukasi anak dan Masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui program-program seperti bijak dalam menggunakan plastik dan pengolahan sampah. Tergabung di Yayasan CAPPA dalam Program “Sehat Alam, Sehat Anak” Sebagai Fasilitator Anak, Gender dan Inklusi.


    Here can be your custom HTML or Shortcode

    This will close in 20 seconds

    Add New Playlist