Di tengah gempuran modernisasi dan deru mesin industri yang mengelilingi kawasan hutan di Provinsi Jambi, sekelompok masyarakat adat di pedalaman Kabupaten Sarolangun memilih jalan yang berbeda. Mereka merawat waktu, menjaga harmoni, dan menghidupkan kembali warisan para leluhur. Di Dusun III Trans SAD Sepintun, Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, denyut kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan berdetak seirama dengan kelestarian alam.
Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang difasilitasi oleh Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi dalam kerangka Program Kampung Inklusi – Inovasi Sosial (KIIvaS), masyarakat setempat membuktikan bahwa kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sebuah strategi hidup yang cerdas, tangguh, dan berkelanjutan.

Akar Sejarah: Menyelami Jejak Batin Telisak
Jika ditarik ke belakang, eksistensi masyarakat Dusun III Trans SAD Sepintun berakar dari keturunan Batin Telisak salah satu dari sembilan wilayah aliran sungai tempat persebaran awal SAD Batin Sembilan yang merupakan keturunan dari sembilan putra Raden Ontar. Secara historis dan kultural, identitas mereka tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Hutan adalah rumah, apotek hidup, sekaligus pasar tempat mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun, perjalanan komunitas ini tidak selalu berjalan mulus. Masalah pelik bermula ketika terjadi tumpang tindih kebijakan yang menjadikan wilayah jelajah serta ruang penghidupan tradisional mereka masuk ke dalam areal izin konsesi perusahaan. Kondisi ini sempat memicu gesekan dan konflik lahan yang meresahkan, di mana ruang gerak masyarakat adat kian terhimpit akibat hilangnya akses legal terhadap sumber-sumber penghidupan mereka di dalam hutan.
Kendati demikian, melalui perjuangan panjang dan pendekatan kolaboratif, termasuk penandatanganan kesepakatan kemitraan pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seluas ±3.685 hektar melalui Naskah Kesepakatan Kerjasama (NKK) antara Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Sungai Telisak dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) pada 25 Juni 2020, ketegangan tersebut perlahan ditransformasikan menjadi ruang resolusi. Masyarakat kini memiliki kepastian hukum dan ruang kelola yang diakui untuk berdaulat atas wilayah adatnya sendiri.
Ketika Alam Dijaga dengan Etika Tradisional
Kehidupan masyarakat Dusun III Trans SAD Sepintun tidak dapat dilepaskan dari ikatan kosmologis dengan alam sekitarnya. Kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur Batin Telisak bukan sekadar teknik bertahan hidup (survival strategy), melainkan sebuah sistem etika lingkungan yang memastikan tercapainya harmoni antara manusia, hutan, dan sumber air. Berdasarkan hasil penggalian data partisipatif, kearifan lokal di wilayah ini dikelompokkan ke dalam beberapa domain utama:
- Etika Pengelolaan Ruang dan Sumber Daya Hutan (Ngabuan):
Hutan diposisikan sebagai “ibu” yang memberikan penghidupan. Tradisi Ngabuan ekspedisi meramu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) selama sepekan di dalam kawasan dilakukan dengan prinsip mengambil seperlunya dan menjaga regenerasi flora. Terdapat sistem pembagian wilayah ulayat yang jelas berdasarkan penemuan awal (first finder principle), seperti kepemilikan pohon sialang secara turun-temurun yang diatur secara adat tanpa memicu konflik horizontal.
- Keadilan Agraria dan Solidaritas Sosial (Baselang):
Tradisi gotong royong Baselang mencerminkan sistem ekonomi kerakyatan yang menjunjung tinggi kesetaraan. Mulai dari pembukaan lahan, penanaman, hingga masa panen, seluruh proses dikerjakan secara kolektif bergiliran antar keluarga, sehingga menekan disparitas ekonomi dan memperkuat kohesi sosial.
- Konservasi Perairan Berkelanjutan (Nalak Ikan):

Praktik pencarian ikan di sungai menggunakan metode tradisional (seperti penggunaan racun alami tubo ubi dari ubi gadung dengan takaran terukur, pemasangan perangkap luka, serombong, hingga najur) dirancang agar tidak merusak ekosistem akuatik jangka panjang. Penggunaan racun alami dibatasi hanya pada titik-titik tertentu agar ikan kecil dan induk ikan yang sedang memijah tetap selamat.
Tidak hanya itu, sistem kesehatan komunal mereka juga bertumpu pada alam. Melalui ramuan tradisional seperti bauras (untuk meredakan demam) dan beband (mengatasi kembung menggunakan daun kates dan jarak hangat), kearifan farmakologi tradisional ini terbukti ampuh dan tetap dipertahankan.
Dari Hutan ke Pasar: Membangun Kemandirian Ekonomi KUPS
Kearifan lokal kini bertransformasi menjadi motor penggerak kesejahteraan ekonomi masyarakat. Melalui wadah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), warga mengorganisir diri secara profesional namun tetap berpijak pada prinsip kelestarian lingkungan:
- KUPS Madu Telisak: Berfokus pada pengelolaan Madu Sialang. Dipandu oleh kearifan lokal para piawang (pemanen madu tradisional) yang memanjat pohon sialang raksasa pada malam hari sambil melantunkan numbay (nyanyian penenang lebah), madu hutan berkualitas tinggi dipanen secara lestari.
- KUPS Karya Maju: Mengembangkan komoditas Kopi Ekselsa melalui sistem agroforestry. Selain memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga petani, tanaman kopi di kawasan ini juga berfungsi ekologis sebagai penunjang sumber nektar bagi kelangsungan hidup lebah madu.
Peran Strategis Perempuan dan Generasi Muda dalam Pelestarian Kearifan Lokal
Pembagian peran dalam praktik kearifan lokal menunjukkan pembagian yang adil namun saling melengkapi:
- Peran Perempuan: Perempuan Suku Anak Dalam memiliki peran sentral dalam menjaga ketahanan pangan keluarga dan pewarisan budaya. Mulai dari pengolahan pangan lokal (seperti pembuatan Kelempes, Kemojo, Angkak Ketan, Lemang, dan Sagon), pengolahan hasil buruan/tangkapan ikan (nyalai, membuat ikan asin), hingga memegang keahlian dalam seni kriya tradisional melalui kegiatan menganyam (membuat tikar dan kunju dari daun pandan, rumbai, serta rotan).
- Peran Generasi Muda & Anak-anak: Anak-anak dilibatkan secara langsung dalam kegiatan lapang seperti nunggu durian di pondok kebun saat musim buah dan mencari umpan tradisional untuk memancing. Hal ini berfungsi sebagai proses belajar mandiri (learning by doing) agar nilai-nilai ekologis tidak terputus di tengah arus modernisasi dan gempuran produk instan dari warung-warung modern di sekitar pemukiman transmigrasi.
Pendidikan Kritis dan Regenerasi Ekologis
Keberhasilan mempertahankan kearifan lokal di Dusun III Trans SAD Sepintun juga merambah ke anak-anak melalui kegiatan membangun kebun sekolah, pengenalan lingkungan, serta pengenalan dan pemanfaatan pangan lokal. Melalui fasilitasi Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, sekolah-sekolah di sekitar wilayah adat seperti SDN 213/VII Sepintun II dan SD Negeri 083/VII Sepintun I dilibatkan secara aktif dalam praktik langsung pengelolaan kebun sekolah, menanam berbagai komoditas pangan lokal (seperti ubi dan pisang), serta mempelajari ekosistem alam sekitar.
Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengonsumsi dan melestarikan kekayaan pangan lokal guna melawan penetrasi pangan instan rendah nutrisi, serta bersama para guru merumuskan aturan sekolah yang mendukung kedaulatan pangan lokal dan bebas sampah plastik. Pendekatan partisipatif ini memastikan terjadinya transfer pengetahuan, kecintaan terhadap pangan lokal, dan kepedulian lingkungan secara berkelanjutan kepada generasi muda di tingkat tapak.
Merajut Masa Depan: Kolaborasi untuk Keadilan Ekologis
Kisah Dusun III Trans SAD Sepintun adalah potret inspiratif tentang bagaimana masyarakat adat mampu berdiri sebagai subjek utama dalam pembangunan, bukan sekadar penonton. Tantangan ke depan mulai dari perubahan iklim hingga menjaga minat generasi muda, dijawab melalui penguatan kelembagaan, dokumentasi pengetahuan lokal, serta pelibatan aktif perempuan dan pemuda.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari sinergi multipihak: masyarakat, pendamping dari Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, pemerintah, KPHP, hingga perguruan tinggi. Dengan merawat kearifan masa lalu dan mengadaptasikannya dengan inovasi masa kini, Dusun III Trans SAD Sepintun membuktikan bahwa perlindungan hutan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan demi masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Discussion about this post