JAMBI (1 Mei 2026) – Ecopreneur kampung dari Sepintun yang tergabung dalam Koperasi Suku Dalam Sejahtera memperkenalkan sejumlah produk lokal dalam kegiatan Pekan Budaya Pariwisata Sepucuk Adat Serumpun Pseko, Festival Jambi Elok Nian 2026 yang berlangsung di kawasan Taman Mini Melayu Jambi, Arena Eks MTQ, Kota Jambi.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026 itu menjadi ruang bagi produk-produk dari Sepintun untuk tampil di hadapan publik, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan pengunjung kegiatan budaya. Tiga perempuan dari Sepintun, yakni Supik, Gabek, dan Ayu, hadir membawa produk yang diproduksi oleh Koperasi Suku Dalam Sejahtera.
Dalam kesempatan ini, Dorel Efendi sebagai fasilitator dari Yayasan CAPPA turut mendampingi para ecopreneur kampung, memastikan setiap narasi produk tersampaikan dengan baik kepada pengunjung sekaligus memperkuat jejaring pemasaran bagi komunitas.

Produk yang diperkenalkan meliputi Kopi Telisak, Madu Telisak, Kunju, dan Hulu. Keempat produk tersebut membawa cerita berbeda tentang potensi kampung, mulai dari budidaya kopi berbasis agroforestry, pengelolaan madu melalui kearifan lokal besialang, anyaman perempuan, hingga olahan resin kreatif anak muda Batin Telisak.
Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung adalah Kopi Telisak. Produk ini berasal dari kopi excelsa yang dibudidayakan dengan pola agroforestry. Kopi tersebut dijual dalam kemasan 100 gram dan diperkenalkan sebagai salah satu identitas baru produk lokal dari Sepintun.
“Biasanya di Jambi, kita kenal kopi arabika, robusta dan liberika. Nah, sekarang, dari Sepintun ada kopi excelsa,” ucap Supik, salah satu ecopreneur kampung dari Sepintun.
Menurut Supik, kehadiran Kopi Telisak dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan jenis kopi yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Selain sebagai produk konsumsi, Kopi Telisak juga membawa cerita tentang cara masyarakat mengembangkan usaha tanpa melepaskan hubungan dengan kebun, tanaman pelindung, dan lingkungan sekitar.
Selain kopi, para ecopreneur juga memperkenalkan Madu Telisak. Produk ini diproduksi dengan sistem kearifan lokal besialang, yaitu praktik masyarakat dalam mengelola dan memanen madu dengan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan pohon sialang, musim, serta tata cara pemanfaatan hasil alam. Melalui produk ini, masyarakat Sepintun tidak hanya menawarkan madu, tetapi juga memperkenalkan pengetahuan lokal yang hidup di tengah komunitas.
Produk lain yang turut dibawa adalah Kunju, brand anyaman yang dibuat oleh perempuan terampil dari Dusun III Trans SAD Sepintun. Produk anyaman tersebut menunjukkan peran perempuan dalam mengolah keterampilan lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Kehadiran Kunju dalam kegiatan budaya itu juga memperlihatkan bahwa perempuan kampung memiliki peran penting dalam mendorong ekonomi kreatif berbasis keterampilan dan identitas lokal.
Sementara itu, brand Hulu hadir melalui olahan resin kreatif yang dikembangkan oleh anak muda Batin Telisak. Produk resin tersebut memberi kesan tersendiri bagi pengunjung karena dapat menjadi cendera mata yang tidak hanya memiliki bentuk menarik, tetapi juga membawa cerita dari Sepintun.
Keikutsertaan ecopreneur Sepintun dalam Pekan Budaya Pariwisata tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk kampung ke ruang yang lebih luas. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Gubernur Jambi, Bupati Sarolangun, jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Sarolangun, serta bupati dan wali kota se-Provinsi Jambi.
Bagi Koperasi Suku Dalam Sejahtera, kehadiran dalam kegiatan budaya tersebut bukan hanya untuk menjual produk. Lebih dari itu, para ecopreneur kampung ingin menunjukkan bahwa produk lokal dari Sepintun lahir dari hubungan masyarakat dengan alam, keterampilan warga, peran perempuan, dan kreativitas anak muda.
Melalui Pekan Budaya Pariwisata Sepucuk Adat Serumpun Pseko, produk-produk dari Sepintun mendapat ruang untuk dikenal sebagai bagian dari kekayaan ekonomi lokal Sarolangun. Kehadiran Kopi Telisak, Madu Telisak, Kunju, dan Hulu juga memperlihatkan bahwa kampung memiliki potensi untuk mengembangkan usaha yang berpijak pada budaya, lingkungan, dan kemandirian masyarakat.
Para ecopreneur Sepintun berharap, keterlibatan mereka dalam kegiatan ini dapat membuka peluang pasar yang lebih luas. Mereka juga ingin memperkuat pesan bahwa ekonomi kampung dapat tumbuh melalui produk yang menjaga cerita, pengetahuan lokal, dan hubungan masyarakat dengan alam.


Discussion about this post