Kebun sekolah SD Inpres 4 Terpencil Sidoan telah lama difungsikan sebagai media pembelajaran praktis bagi siswa untuk mengenal pangan lokal. Salah satu komoditas utamanya adalah ubi kayu yang ditanam secara kolaboratif oleh siswa, guru, dan fasilitator pada Agustus 2024. Memasuki bulan Maret 2026, ubi kayu tersebut telah mencapai masa panen dengan kondisi pertumbuhan yang subur.
Namun, tantangan muncul ketika memasuki bulan Ramadan. Proses belajar mengajar di sekolah tidak berjalan seperti biasanya, dengan tingkat kehadiran siswa dan guru yang cukup rendah. Menanggapi situasi ini, fasilitator berinisiatif membangun komunikasi intensif dengan Ibu Delmi, perwakilan orang tua siswa sekaligus koordinator perawatan kebun, untuk memastikan rencana monitoring dan panen tetap dapat terlaksana meskipun di tengah masa libur atau pembatasan aktivitas sekolah.

Kegiatan dimulai dengan diskusi antara fasilitator, guru pendamping, dan Ibu Delmi untuk menyusun mekanisme panen dan pendataan tanaman. Fokus utama adalah memberikan edukasi langsung kepada siswa yang hadir mengenai teknik panen yang benar.
Prosesi panen berlangsung secara partisipatif:
- Edukasi Teknik Panen: Ibu Delmi memberikan demonstrasi cara mencabut ubi kayu agar umbinya tidak rusak. Siswa kemudian mempraktikkan cara tersebut dengan antusias.
- Observasi & Pendataan: Sembari memanen, sebagian siswa melakukan observasi dan pendataan terhadap komoditas lain yang masih bertahan di kebun untuk memetakan ketersediaan pangan sekolah.
- Distribusi Hasil: Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka, hasil panen dibagikan secara merata kepada lima siswa yang hadir sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah.
Dari hasil kegiatan ini, diperoleh data sebagai berikut:
- Produksi: Total panen ubi kayu mencapai ±7 kg, di mana setiap anak membawa pulang ±1,4 kg ubi kayu segar.
- Inventaris Kebun: Saat ini, area kebun masih menyisakan 30 rumpun ubi kayu, 1 rumpun labu, 1 pohon terong, dan 1 rumpun ubi jalar yang terus dipantau perkembangannya.
Dalam sesi refleksi, anak-anak mengungkapkan rasa bangga karena dapat menikmati hasil jerih payah mereka sendiri. Mereka bahkan berencana melakukan penanaman kembali pada bulan April mendatang dengan memanfaatkan batang ubi kayu pilihan sebagai bibit baru, serta berkomitmen mengajak teman-teman lainnya untuk lebih aktif merawat kebun.

Kegiatan ini membuktikan bahwa kebun sekolah bukan sekadar lahan pertanian, melainkan ruang belajar yang menumbuhkan minat dan kemandirian anak. Dukungan berkelanjutan dari guru dan orang tua adalah kunci utama agar perawatan kebun tetap rutin dilakukan, sehingga potensi pangan lokal ini dapat terus dinikmati secara berkelanjutan.

Discussion about this post