Adalah Fahriatun, perempuan yang akrab dipanggil Atun dengan semangat menceritakan berbagai hal baik yang dimiliki oleh masyarakat adat Batin Telisak. Di depan rumahnya, ia bercerita kalau semangat bekerja bersama, bergotong royong sudah turun temurun di kalangan masyarakat dari generasi ke generasi.
“Iyo, masyarakat di siko ko, dari dulu memang semangat saling membantu. Bergotong royong, besamo-samo.” Tutur Atun.
Terletak di Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Dusun III Tran SAD Sepintun merupakan sebuah perkampungan kecil, salah satu tempat masyarakat adat Batin Telisak bermukim. Di dusun kecil ini, masyarakat hidup dengan nilai budaya yang masih dipegang dan diwariskan turun temurun di tengah gempuran zaman.
Baselang nugal adalah satu di antara praktik baik itu yang masih terjaga hingga kini. Lebih dari sekadar metode bercocok tanam padi, baselang nugal menjelma menjadi manifestasi nyata dari semangat gotong royong yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Sebuah ritual kolektif yang melibatkan setiap individu, dari anak-anak hingga orang tua. Baselang nugal bukan hanya tentang menanam benih, tetapi juga menabur kebersamaan dan memanen harmoni.
Pagi di Dusun III Trans SAD Sepintun menyambut dengan keheningan dan sejuknya udara pagi, sebelum riuh rendah suara warga memecahnya. Sekitar 5 hingga 30 pasang kaki telah berjejak di ladang yang siap ditanami walau matahari belum benar-benar hidup. Laki-laki dengan sigap mempersiapkan peralatan yang menjadi tulang punggung tradisi ini, bibit padi yang akan menjadi harapan masa depan, hamparan ladang yang menanti sentuhan tangan, dan tugal, sebilah kayu panjang berujung runcing yang menjadi penanda dimulainya kehidupan baru di bumi. Sementara itu, kaum perempuan dengan keahlian dan kelembutan, menyiapkan hidangan sederhana namun penuh kehangatan, mangkuk-mangkuk sebagai wadah bibit padi, dan meneh (memasukkan satu per satu bibit ke dalam setiap lubang) sentuhan lembut jari-jemari yang akan menanamkan harapan ke dalam tanah.
Setelah berbagi kehangatan dalam sarapan bersama, ritual baselang nugal pun dimulai. Para lelaki dengan kekuatan dan ketelitian mereka mulai nyejak tugal atau menusukkan kayu ke dalam tanah, menciptakan barisan lubang yang rapi dan teratur, layaknya notasi kehidupan yang akan tumbuh. Di belakang mereka, para perempuan dengan gerakan mengambil bibit padi dari mangkuk dan dengan penuh perhatian melakukan meneh. Sebuah gerakan alamiah tercipta, di mana kekuatan dan kelembutan berpadu menghasilkan harmoni.
Keunikan baselang nugal terletak pada atmosfer kebersamaan yang menyelimuti seluruh proses. Pekerjaan berat terasa ringan karena diselingi dengan obrolan santai. “Gawe yang mestinyo dilakukan beminggu-minggu, kini selesai dalam sehari.” Ucap marhoni, ketika ditanya manfaat tradisi ini.
Baselang nugal juga menjadi tempat bertemunya cerita-cerita kehidupan, dan gelak tawa yang membahana antara masyarakat satu dengan lainnya. Setiap candaan dan senyuman yang terlempar menjadi perekat yang semakin mempererat tali persaudaraan, menciptakan kerukunan dan keharmonisan yang menjadi ciri khas masyarakat Dusun III Trans SAD Sepintun.
Waktu beranjak tanpa terasa, dan terik matahari siang menjadi penanda untuk rehat sejenak. Kegiatan baselang nugal dihentikan sementara, inilah waktu untuk berhenti, dan mengisi energi dengan makanan yang telah tersedia. Makan siang bersama di tengah ladang menjadi momen berbagi dan mempererat ikatan, sebelum semangat kembali dipompa untuk melanjutkan pekerjaan hingga sore hari, hingga seluruh bibit padi tertanam dengan sempurna.
Dalam tradisi baselang nugal, masyarakat yang membantu tidak diupah, tidak pula digaji. Melainkan, hanya dimintai bantuan secara gratis, namun, pihak pemilik ladang mesti menyediakan makanan untuk masyarakat yang membantu. Ini menjadi hal yang menarik, karena ternyata, masyarakat menghibahkan dirinya bukan karena uang, tapi karena persaudaraan dan semangat kebersamaan.
Lebih dari sekadar praktik agraris, baselang nugal adalah jantung dari kehidupan sosial masyarakat Dusun III Tran SAD Sepintun. Ia adalah cerminan dari nilai-nilai luhur gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menghasilkan pangan untuk keberlangsungan hidup, tetapi juga memelihara keharmonisan, memperkuat solidaritas, dan merayakan kebersamaan.
Baselang nugal adalah perekat sosial yang tak ternilai harganya, sebuah warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan di tengah arus modernisasi yang kian deras. Di ladang Dusun III Trans SAD Sepintun, di bawah langit Jambi yang membentang luas, tradisi baselang nugal terus hidup, menumbuhkan bukan hanya padi, tetapi juga benih-benih persaudaraan dan kebersamaan.


Discussion about this post