
Bagi masyarakat adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar hamparan pohon, ia adalah dapur hidup yang menyediakan pangan sekaligus menjaga identitas budaya. Salah satu contohnya terlihat dari tradisi nalak ikan, cara menangkap ikan yang diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian penting dari keseharian mereka. Aktivitas ini bukan cuma soal mencari lauk, tapi juga tentang kebersamaan, pengetahuan alam, dan hubungan harmonis dengan lingkungan.
Namun, semua itu sangat bergantung pada kondisi hutan. Ketika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti di daratan. Sungai ikut tercemar, aliran air berubah, dan populasi ikan perlahan menurun. Jika kondisi ini terus terjadi, masyarakat bukan hanya kehilangan sumber pangan, tetapi juga kehilangan praktik budaya yang selama ini menjadi jati diri mereka. Singkatnya, rusaknya hutan berarti ancaman nyata bagi keberlangsungan budaya pangan masyarakat adat itu sendiri.

Discussion about this post