Jambi, 9 Oktober 2026 – Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi mengikuti rangkaian Peningkatan Kapasitas Pengetahuan Ekonomi Hijau Tingkat Dasar di Koridor Ekosistem RIMBA Provinsi Jambi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Tata Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), bekerja sama dengan UNEP dan GEF. Dalam kegiatan ini, CAPPA diwakili oleh Dorel Efendi, Facilitator of Ecopreneur Innovation.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program RIMBA, sebuah upaya memulihkan dan menjaga keterhubungan bentang alam di koridor ekosistem Riau, Jambi, dan Sumatera Barat sambil mendorong ekonomi masyarakat yang lebih hijau. Pesertanya datang dari latar yang beragam, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, kelompok tani hutan, pelaku UMKM, perusahaan, hingga media.

Rangkaian pelatihan berlangsung dalam tiga tahap. Peserta lebih dulu mengikuti sesi daring melalui Zoom pada 29 hingga 30 September 2026. Pada sesi ini mereka menerima empat materi utama, yaitu ekonomika lingkungan dan sumber daya alam, pertanian dan kehutanan, energi dan teknologi hijau, serta pemberdayaan masyarakat. Setelah itu, peserta menjalani belajar mandiri melalui Learning Management System pada 1 hingga 6 Oktober 2026. Selama empat hari, mereka mendalami setiap tema lewat video, bahan bacaan, kuis, dan lembar kerja, lalu menutupnya dengan pengerjaan tugas besar.
Tahap terakhir adalah sesi tatap muka yang digelar pada 7 hingga 8 Oktober 2026 di BW Luxury Hotel, Kota Jambi. Hari pertama diisi dengan pendalaman materi bersama para narasumber, yakni Dr. M. Ridwansyah, S.E., M.Sc., Elisa Septina, SP, M.Si, Ahmad Syukron Prasaja, Soni Pratomo, dan Ade Candra, SP. Hari kedua menjadi ruang praktik yang dipandu oleh Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., Ph.D.. Peserta berdiskusi dalam proses vision building, mulai dari mengidentifikasi dan merumuskan masalah, mendalaminya, merumuskan tujuan, hingga menyusun rencana aksi. Hasil diskusi itu kemudian dipresentasikan di hadapan seluruh peserta.
Prof. Bakti Setiawan dari Tim Peningkatan Kapasitas Pengetahuan Ekonomi Hijau menegaskan bahwa pelatihan ini tidak dimaksudkan berhenti di ruang kelas. “Kegiatan ini bertujuan untuk melahirkan kader ekonomi hijau yang akan menularkan virus kebaikan secara lebih luas,” ujarnya.
Bagi CAPPA, materi dan tugas dalam pelatihan ini memang tidak berkaitan langsung dengan koperasi dan usaha yang sedang didampingi di lapangan. Meski begitu, nilai dan konsep yang dibahas sejalan dengan apa yang CAPPA dorong bersama masyarakat, termasuk pengembangan Koperasi Suku Dalam Sejahtera bersama masyarakat Batin Telisak.
“Kegiatan ini kembali mengingatkan saya bahwa membangun usaha hijau, atau yang di CAPPA kami kenal sebagai ecopreneur kampung, harus mendorong banyak hal sekaligus dan dikerjakan secara kolaboratif. Usaha hijau tidak bisa hidup sendiri. Ia mesti didukung oleh banyak pihak,” kata Dorel Efendi.
Pandangan ini sejalan dengan tantangan yang dihadapi Koridor RIMBA. Bentang hutan yang terpotong, hak kelola masyarakat yang belum pasti, dan ekonomi warga yang bergantung pada komoditas mentah adalah persoalan yang saling terkait dan tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, pelaku usaha, dan warga kampung perlu bergerak bersama.

Rencana tindak lanjut dari pelatihan ini telah disusun dan kini menjadi bahan diskusi bersama para peserta. Penyelenggara juga merencanakan pelatihan tingkat lanjut sebagai kelanjutan dari tingkat dasar ini. Sementara itu, CAPPA akan membawa pembelajaran dari pelatihan ini ke dalam kerja pendampingan ecopreneur kampung, agar usaha masyarakat di sekitar hutan dapat tumbuh seiring dengan upaya menjaga hutan dan ruang hidup mereka.

Discussion about this post