Ubi kayu, ubi jalar, dan pisang bukan sekadar hasil kebun yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Di tangan anak-anak, bahan pangan lokal tersebut dapat diolah menjadi beragam hidangan kreatif sekaligus menjadi pintu masuk untuk belajar tentang makanan sehat, budaya lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan Lomba Kreasi Pangan Lokal di SD Kecil Bangkalan pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal potensi pangan di lingkungan sekitar, mengolahnya menjadi makanan, serta memahami pentingnya pangan lokal bagi kesehatan dan keberlanjutan alam.

Kegiatan ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, memperoleh makanan yang sehat dan bergizi, serta hidup dalam lingkungan yang baik dan sehat. Pemenuhan hak tersebut tidak terlepas dari ketersediaan sumber pangan yang beragam, aman, dan berkelanjutan.
Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari ubi kayu, ubi jalar, jagung, pisang, kelapa, hingga berbagai jenis sayuran. Selain menjadi sumber pangan, kekayaan tersebut juga memiliki nilai sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat, sekaligus berkaitan erat dengan keberlanjutan lingkungan.
Namun, di tengah beragamnya potensi pangan lokal, anak-anak semakin akrab dengan berbagai makanan dan jajanan kemasan. Karena itu, mengenalkan pangan lokal sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun kebiasaan makan yang lebih sehat sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap sumber pangan yang tersedia di lingkungan mereka.
Melalui Program SASA (Sehat Alam Sehat Anak), Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi berupaya mendorong pemenuhan hak anak atas lingkungan yang sehat dan pangan lokal. Salah satu pendekatannya adalah menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan dan partisipatif, sehingga anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami secara langsung proses mengenal, mengolah, dan memanfaatkan pangan lokal.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026, Lomba Kreasi Pangan Lokal diselenggarakan dengan tema “Kenal Pangannya, Sehat Anaknya, Lestari Alamnya.” Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan untuk menghasilkan makanan yang menarik, melainkan juga ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menyampaikan gagasan mereka.
Belajar Mengolah Pangan, Berani Berkreasi
Kegiatan diawali dengan persiapan, pembukaan, dan permainan interaktif (ice breaking) untuk membangun suasana yang menyenangkan. Fasilitator kemudian menjelaskan tujuan kegiatan dan mengingatkan peserta bahwa keberhasilan lomba tidak hanya ditentukan oleh kemenangan, tetapi juga oleh pengalaman belajar, kerja sama, dan keberanian mencoba.
Setiap kelompok terdiri atas tiga anak yang diberi kebebasan mengembangkan ide makanan dengan ubi kayu, ubi jalar, atau pisang sebagai bahan utama. Anak-anak dapat merancang kreasi sejak awal bersama kelompoknya. Bahan yang memerlukan persiapan dasar, seperti ubi yang telah dicuci, direbus, atau dikukus, diperbolehkan disiapkan dari rumah. Namun, proses utama pembuatan makanan tetap dilakukan oleh anak-anak di lokasi lomba.
Setelah memahami ketentuan lomba, setiap kelompok mulai mengolah bahan sesuai ide yang telah disepakati. Anak-anak terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah dan membentuk adonan, hingga menata makanan agar menarik saat disajikan. Mereka juga belajar membagi tugas, berdiskusi, dan menentukan cara terbaik untuk menyelesaikan kreasi kelompoknya.
Dalam proses tersebut, anak-anak tidak hanya mengikuti arahan, tetapi juga diberi ruang untuk mengambil keputusan dan mengembangkan gagasan sendiri. Ketika menghadapi kesalahan atau perbedaan pendapat, mereka belajar kembali bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Sementara itu, guru dan pendamping bertugas membantu serta memastikan keamanan selama kegiatan, tanpa mengambil alih peran utama anak dalam proses pembuatan makanan.
Pengalaman ini menjadi bagian penting dari pembelajaran. Anak-anak tidak hanya mengenal pangan lokal melalui penjelasan, tetapi juga merasakan proses mengolahnya secara langsung. Di saat yang sama, mereka belajar tentang tanggung jawab, kekompakan, dan pentingnya menghargai kontribusi setiap anggota kelompok.
Tujuh Kreasi Pangan Lokal, Tujuh Ide Berbeda

Dari bahan pangan yang sederhana, lahirlah tujuh kreasi yang menunjukkan beragam cara anak-anak memanfaatkan pangan lokal. Setiap kelompok menghadirkan ide dan penyajian yang berbeda, mulai dari olahan tradisional hingga kreasi dengan tampilan yang lebih berwarna.
Tujuh kreasi yang disajikan dalam lomba tersebut meliputi:
- Kue Janda, kreasi olahan ubi kayu dan pisang.
- Kue Taraju, olahan ubi dengan campuran bahan lainnya.
- Kue Ubi Bungkus (Roko-roko), olahan ubi kayu yang dibungkus daun pisang.
- Kue Lapis Pelangi, kreasi olahan ubi kayu dengan tampilan berwarna.
- Kolak Ubi, olahan ubi dengan kuah santan dan gula merah.
- Rebusan Ubi, sajian ubi yang dipadukan dengan sambal.
- Ubi Goreng dan Dabu-dabu, olahan ubi yang disajikan bersama sambal.
Setelah selesai mengolah makanan, setiap kelompok menata hasil kreasinya sebelum dinilai oleh dewan juri. Penilaian mencakup pemanfaatan pangan lokal, kreativitas dan inovasi, cita rasa, penyajian, kebersihan, keterlibatan dan kekompakan kelompok, serta kemampuan anak mempresentasikan hasil karyanya.
Setiap kelompok juga memperoleh kesempatan untuk menjelaskan nama makanan, bahan utama, asal bahan, alasan memilih kreasi tersebut, serta kaitannya dengan kesehatan dan lingkungan. Melalui sesi ini, anak-anak berlatih berbicara di depan orang lain sekaligus menyampaikan pemahaman mereka tentang pangan lokal.
Menghargai Proses, Merayakan Kreativitas

Setelah seluruh rangkaian penilaian dan rekapitulasi nilai selesai, dewan juri menetapkan tiga kelompok dengan nilai terbaik sebagai pemenang lomba. Juara pertama diraih oleh kelompok pembuat Kue Janda dengan nilai 93,3, disusul kelompok pembuat Kue Taraju dengan nilai 92,6 sebagai juara kedua.
Juara ketiga tercatat dalam hasil kegiatan dengan nilai 92. Namun, nama kreasi pangan untuk peringkat ini perlu dipastikan kembali berdasarkan rekapitulasi penilaian dan keputusan dewan juri sebelum dicantumkan dalam publikasi.
Penghargaan diberikan kepada setiap anak dalam kelompok pemenang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kerja sama mereka. Hadiah meliputi perlengkapan sekolah dan barang pendukung kegiatan, seperti mug SASA, kotak makan, buku, alat tulis, pin Kreasi Pangan Lokal, serta sertifikat penghargaan. Seluruh peserta juga menerima pin “Aku Cinta Pangan Lokal” dan sertifikat keikutsertaan sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan partisipasi mereka.
Lebih dari sekadar menentukan pemenang, kegiatan ini memberikan pengalaman kepada anak-anak bahwa bahan pangan yang tumbuh di sekitar mereka dapat diolah menjadi makanan yang beragam dan menarik. Mereka juga belajar bahwa proses menciptakan sesuatu membutuhkan ide, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian untuk mencoba.
Melalui Lomba Kreasi Pangan Lokal, Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi berharap anak-anak semakin mengenal potensi pangan di lingkungan sekitarnya dan tumbuh dengan kebiasaan menghargai pangan lokal. Sebab, membangun generasi yang sehat tidak hanya dimulai dari makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dari pengetahuan, kebiasaan, dan kepedulian terhadap lingkungan yang menopang kehidupan mereka.
Kenal pangannya, sehat anaknya, lestari alamnya.

Discussion about this post