Banyak orang mengenalnya dari aromanya yang tajam. Tapi jengkol lebih dari sekadar “bau khas”. Di balik kulit kerasnya, tersimpan cerita tentang dapur sederhana, musim panen, hingga denyut ekonomi kecil yang terus bergerak.

Jengkol (Pithecellobium sp.) adalah bagian dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), hasil hutan yang bisa dimanfaatkan tanpa harus menebang pohonnya. Saat musim berbuah tiba, ia menjadi berkah musiman: diolah jadi sambal, digoreng renyah, atau dijual untuk menambah penghasilan keluarga.
Menjelang akhir tahun, aroma khas jengkol kembali menyapa Dusun III Trans SAD Sepintun. Sebuah penanda musim yang sudah akrab bagi masyarakat setempat. Namun kali ini berbeda, jengkol berbuah dengan hasil yang cukup melimpah.
Bagi warga, jengkol bukan sekadar bahan dapur. Ia adalah bagian dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan gastronomi sekaligus penopang ekonomi rumah tangga. Saat panen melimpah seperti sekarang, jengkol menjadi sumber rezeki musiman yang nyata.

Di Dusun III Trans SAD Sepintun, jengkol yang masih lengkap dengan kulitnya dijual dengan harga Rp. 5.000/Kg. Namun menariknya, tidak semua warga memilih menjual hasil panen tersebut. Sebagian lainnya memilih menyimpan dan mengolahnya sendiri, cukup untuk konsumsi keluarga, tanpa ambisi mengejar pasar.
Di Dusun III Trans SAD Sepintun, jengkol mengajarkan satu hal sederhana: hutan tak selalu harus ditebang untuk memberi manfaat. Kadang, ia cukup berbuah.

Discussion about this post