Kalau ditanya apa tantangan paling terasa di Dusun III Trans SAD Sepintun, jawabannya sederhana: jalan.

Akses utama menuju kampung ini masih berupa jalan tanah yang kondisinya belum stabil. Di musim panas, debu mengepul dan kendaraan harus berjalan pelan menghindari lubang. Tapi saat hujan turun, cerita berubah total. Jalan berubah jadi lumpur tebal yang lengket di ban, licin di roda, dan kerap membuat kendaraan tak berdaya.
Mobil terperosok bukan hal langka. Bahkan bagi warga, itu sudah seperti rutinitas musiman. Ada yang harus didorong bersama-sama, ada yang terpaksa ditarik, ada pula yang memilih putar balik karena risiko terlalu besar. Waktu tempuh yang biasanya singkat bisa berlipat ganda hanya karena satu titik jalan yang rusak.

Di tengah keterbatasan akses tersebut, masyarakat Dusun III Trans SAD Sepintun terus menumbuhkan semangat pengembangan usaha Perhutanan Sosial. Pengelolaan kawasan hutan dilakukan dengan prinsip keberlanjutan, memadukan upaya menjaga ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Di kampung ini, cerita pembangunan bukan sekadar tentang apa yang ditanam atau dihasilkan. Tapi tentang satu pertanyaan mendasar yang selalu muncul setiap kali hujan turun: hari ini, jalan bisa dilewati atau tidak?

Discussion about this post